← Kembali ke artikel
Kuliner

PANDAP

Tim KRUI.CO7 September 2026
PANDAP

Makanan Khas Lokal Pesisir Barat

Pandap, dikenal pula sebagai babutuk atau batutuk, adalah makanan tradisional khas Bengkulu dan Lampung, terutama di Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Kabupaten Lampung Barat, dan Kaur, Bengkulu Selatan. Makanan ini disebut-sebut telah ada sejak zaman nenek moyang.[1][2]

Pandap biasa dijadikan lauk pendamping nasi, tetapi juga dapat disantap sendiri tanpa nasi. Bagi sebagian orang, menyantapnya tanpa nasi justru memberi sensasi rasa yang lebih tajam di lidah.[2] Dewasa ini, pandap sudah semakin sulit ditemukan, kalah bersaing dengan makanan modern yang tersedia di minimarket dan restoran. Dahulu banyak penjual pandap keliling yang berjualan setiap hari, tetapi kini keberadaan mereka sudah jarang dijumpai.[1]

Bahan dan pembuatan

Pandap dibuat dari parutan kelapa yang telah dibumbui, dicampur dengan potongan ikan. Campuran ini dibungkus dengan lima hingga sepuluh lembar daun bebat, sejenis tumbuhan mirip talas yang tumbuh di daerah Krui.[2] Bungkusan daun bebat tersebut kemudian dibungkus lagi (tisimpok) dengan beberapa lapis daun pisang (bulungni punti), diikat dengan tali serat rami, lalu direbus selama berjam-jam hingga matang.[2]

Proses perebusan yang lama ini penting untuk menghilangkan getah pada daun bebat yang dapat menimbulkan rasa gatal di tenggorokan apabila belum matang sempurna. Karena itu, pembuatan pandap sebaiknya tidak dicoba oleh orang yang belum berpengalaman.[2]

Penyajian

Pandap biasa disantap bersama nasi sebagai lauk, meski juga lazim dimakan langsung tanpa nasi. Hidangan ini masih dapat ditemukan di sejumlah warung tradisional di wilayah Lampung Barat, Pesisir Barat, dan Bengkulu, meski penjual kelilingnya sudah semakin jarang dibandingkan masa lalu.[1]

Referensi

  1. "Pandap » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-12-06.

  2. "Masakan Khas Krui: Gulai Bebat dan Pandap/Babutuk". nurwan-gawoh.blogspot.com.